Entahlah, saya agak lupa ketika saya mulai menyukai kopi hitam pekat yang biasa diminum oleh abang-abangan saya di kampung. Saya hanya mengingat sesuatu yang luar biasa dari sekedar meminum kopi, setidaknya itu yang saya rasakan ketika saya mensruput kopi di warkop samping Ramayana, belakang STM, depan rumah teman, atau dibeberapa tempat lainnya. Saya tertular minum kopi yang diartikan tentang kebersamaan yang tak mengenal materi yang dilambangkan dengan melakukan minum kopi bersama dalam berbagai suasana, tak perduli hujan atau tidak, atau bahkan disela-sela berangkat kerja yang tersisa beberapa jam saja.
Sebenarnya saya adalah tipe orang positif yang selalu menjaga kesehatan dari hal-hal kecil, saya berusaha keras akan hal itu. Mulai dari memerangi asap rokok, minum kopi berlebihan atau minum dengan gelas secara bersamaan, sampai ke menghindari pemakaian botol plastik berulang kali. Hmm, tapi bukan berarti saya membatasi diri untuk tidak bergaul dengan orang-orang disekitar saya yang kebetulan sering merokok, atau saya sengaja menyatakan kepada orang yang kebetulan sering mensruput kopi dalam kesehariannya bahwa saya tidak suka minum kopi, bukan sepicik itu kawan. Alhamdulillah, saya bukan orang yang selalu membatasi diri saya dalam banyak hal. Karena bagi saya, membatasi diri kita untuk hal yang tidak kita sukai tentu akan membuat kita tampak begitu angkuh. Terlalu banyak orang-orang terdekat saya yang kadang pemikirannya tak sehebat seperti yang terlihat, banyak dari mereka yang selalu membatasi diri mereka dari hal-hal yang mungkin mereka anggap tidak berguna, menganggap sesuatu yang mereka tidak suka harus selalu di tunjukkan kepada orang lain, bahkan menganggap remeh mengobrol dipinggir jalan ditemani segelas kopi misalnya. Atau tentang orang yang berpikiran bahwa siapa saja yang mempunyai hutang uang kepada kita yang kebetulan sudah lama tidak dikembalikan, maka harus kita hindari dan di blacklist sebagai teman dekat kita. Karena bagi saya(lagi), orang-orang yang tidak membatasi dirinya dengan apapun adalah orang-orang yang mempunyai pemikiran hebat, mempunyai banyak teman, pandai bergaul, dan kadang mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi. Ketika seseorang berpikir bahwa ada rasa segan, malu, atau canggung untuk melakukan sesuatu, atau selalu merasa tidak nyaman dengan apa yang ia tidak suka, maka orang tersebut telah membendung dirinya sendiri dengan hal-hal yang tak pernah ia duga akan membuat dirinya lebih hebat.
Kalau tidak salah, saya mengenal dan mulai menyukai kopi seiring saya mengenal lebih dalam mengenai teman-teman STM yang kebetulan mereka adalah orang yang selalu mengajarkan saya tentang banyak hal, mengajarkan saya tentang arti persahabatan yang sesungguhnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mengenal waktu, tempat, bahkan jarak ketika mereka sedang mengembara pemikiran. Pernah suatu ketika saya diundang untuk sekedar mensruput kopi disalah satu rumah teman, padahal sudah sangat larut. Tapi saya tetap memutuskan untuk datang karena saya meyakini bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mempermasalahkan waktu, jarak, tidak pernah mengeluh dan tentunya pasti akan datang. Saya juga pernah meminjam uang kepada mereka yang langsung memberi jawaban atas apa yang saya pinjam, tidak seperti orang lain yang mengaku teman dekat saya yang kadang sulit untuk dipinjami uang, hehe. Atau kisah yang lain, hujan agak deras waktu itu, tapi mereka tetap berdatangan ke tempat yang sudah ditentukan, padahal ada beberapa dari mereka yang menyempatkan diri saat pulang kerja dan kebetulan cukup jauh tempat dimana ia bekerja, seperti tak kenal lelah bukan?, jadi teringat teman dekat saya yang beralasan ingin istirahat dihari liburnya ketimbang datang berkunjung kepada teman-temannya.
Mereka adalah orang-orang yang saya kagumi karena cara berpikirnya, mereka adalah orang yang tidak pernah menunjukan perasaan tentang apa yang tidak mereka sukai, mereka adalah orang-orang yang berprilaku layaknya orang dewasa sesungguhnya, tanpa menyatakan bahwa umurnya memang sudah cukup untuk dikategorikan sebagai orang dewasa. Ada teman saya yang cukup pintar dalam ilmu akademis dan dekat dengan saya yang pernah sms ketika kami sepakat untuk datang bersama ke acara pernikahan teman, “gw ga dateng, ujan soalnya”, demikian isi smsnya. Atau saya pernah dapat sms lain, “sori gw ga dateng, tadi masuk malem soalnya, cape banget nih, salam aja ya!”. Hmm, saya hanya bergumam sambil menganalisa bahwa memang pemikiranlah yang menggerakan seseorang. Jika kita berpikir bahwa istirahat setelah bekerja adalah hal yang lebih baik ketimbang datang ke pernikahan teman, maka kita akan tetap istirahat. Jika kita berpikir bahwa kita tidak bisa berkumpul dengan teman dekat karena rumah jauh atau tidak punya uang, maka kita tetap tidak akan berangkat. Atau analisa lain yang pernah saya sampaikan kepada teman-teman, bahwa manusia sebenarnya sama, hanya dibedakan dari tingkat pengetahuannya saja. Seperti dalih-dalih kegagalan dalam buku magic of thinking big menyebutkan tentang alasan-alasan seseorang mengalami kegagalan. Mungkin saja jika kita tahu mengenai konsep dibuku tersebut, maka kita tidak akan pernah mempermasalahkan jarak, materi, dan lain sebagainya dalam menjalani hubungan dengan orang lain.
Demikianlah, saya seperti diingatkan kembali tentang adanya hubungan yang kadang sulit untuk dijelaskan pada orang lain. Dan saya menemukan hal tersebut dari mereka, dari orang yang justru tidak pernah menggombal tentang kebersamaan ala STM yang kadang tak memerlukan definisi persahabatan gaya sinetron-sinetron televisi. STM, satu-satunya bagi saya yang dapat mempresentasikan tentang arti kebersamaan sesungguhnya.
Salam terhangat buat STM 07
4 Pengedar Narkoba Dibekuk Polisi Depok
-
Polresta Depok menggelar operasi Sikat Madat. Hasilnya, dari beberapa
tempat berbeda, Satuan Antinarkoba Polresta Depok menangkap empat pengedar
Ganja dan ...
1 jam yang lalu






salam juga dari aku STM Negri kota Tasikmalaya.. :D