mampukah kita?

Agak siang hari itu, sy menjemput adik di salah satu sekolah dasar dekat lapangan kecamatan. Sy menunggu bel keluar sambil menyaksikan kegiatan para siswa sedang berolah raga ditemani musik bertempo agak cepat. Lucu sekali mereka,bergerak agak malas mengikuti irama, memang terik tampak menyengat,sehingga mereka tampak lucu sambil mengerutkan dahi tanda menahan rasa panas,atau menutupi matanya dgn telapak tangan sambil lari ditempat mengikuti gerakan lainnya.mata sy tertuju pada perempuan mungil bercelana panjang lengkap dgn kerudung terurai ke bagian pinggang,ia sangat semangat. Ketika yg lain berolahraga sambil memegang es ditangan,ia justru asyik dgn gerakan-gerakan yg diarahkan oleh gurunya. Sambil mengetik tulisan ini di handphone,sy arahkan pandangan sy ke tiap sudut. Hmm,selalu tampak wajah-wajah lugu anak sekolah dasar yg sy yakin bhw mereka belum menyentuh suatu pemahaman ttg masa depan. Atau ttg adik sy yg tanpa ragu menjawab 'superhero' ketika sy tanya mengenai cita-citanya,whalah dasar bocah. Melihat siswa-siswi di sekolah dasar itu,sy teringat ttg (boleh dibilang) cita-cita yg sy utarakan kpd sy sendiri,bhw sy akan mengguncang dunia,sy ingin menjadi pemikir besar,minimal sy akan kuliah di universitas besar indonesia. Entah drmn keinginan itu muncul mengingat waktu itu sy baru kelas 4 sd.
Waduh,tapi sekarang sy malah jd seorang penganggur dgn cuma mengandalkan ijasah STM. Jauh,jauh sekali dr apa yg sy harapkan. Kadang apa yg qt perjuangkan tdk selalu berbanding lurus dgn hasil yg diperoleh. Tapi kawan,adalah suatu hal yg picik jika kita menyalahkan lingkungan sekitar andai lingkungan tsb telah merenggut cita-cita kita. Orang tua kita misalnya,sungguh bukan kesalahan mereka jika seandainya mereka telah mencita-citakan kita untuk menjadi buruh. Karena pada dasarnya kesuksesan itu tergantung dr apa yg kita perjuangkan. Karena pada dasarnya kesuksesan itu bukan hasil yg diperoleh. Seperti teman sy yg mendefinisikan bhw pejuang itu adalah mereka yg setia terhadap cita-cita. Mampukah kita?

Comments :

0 komentar to “mampukah kita?”