"gw mau pergi ke Batam besok."
"iya, gw tahu.", sahutku.
Tak terpikirkan sebelumnya bahwa kami akan menghabiskan waktu bersama malam itu, padahal aku tahu bahwa besok, sahabatku akan pergi, mungkin tak kembali, tak ada yang tahu pasti. Hmm, sedikit agak klise memang.
Kami saling melayangkan sms merangkai sebuah acara untuk malam itu, mungkin akan kami jadikan malam yang istimewa dan tak biasa. Biasanya kami hanya duduk sambil mengobrol di teras salah satu rumah kami atau duduk santai sambil nongkrong dipinggir jalan ditemani minuman gelas kemasan hingga larut tiba. Sebenarnya tidak istimewa memang, tapi bagi kami tidak ada yang mampu untuk bisa menandingi sesuatu dengan tukar pikiran yang biasa kami lakukan.
"nanti gw tunggu di halte camatan setelah Isya", demikian isi sms saya kirim.
Malam itu kami sepakati pergi ke tempat yang agak mewah, yaitu sebuah Mall, jarang sebenarnya kami pergi ketempat semacam itu, tapi karena toko bukunya lengkap, maka berangkatlah kami kesana. Tak seperti biasa, kali ini tanpa Vespa milik sahabat saya, kami telusuri jalan-jalan utama kota Bekasi dengan motor bebek pinjaman. Tak lebih dari 40 km/jam, melalui jalan-jalan yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan agak tinggi di sekitarnya. Dikiri-kanan tampak baliho-baliho iklan berbagai ukuran, sinarnya tampak terang dan menyilaukan mata dari kejauhan. Lampu peneranganpun dibuat tak biasa, agak pendek dengan sentuhan gaya klasik tempo dulu dan tidak terlalu menjulang seperti lampu penerangan biasanya. Jalan-jalan utama pun lurus tanpa berbelok. Sedikit agak sepi di perempatan jalan utama, aneh memang. Tapi siapa sangka bahwa tempat tersebut mempertemukan sekitar empat-lima kawasan industri. Dan siapa yang mengira bahwa dibalik gedung dan pabrik-pabrik yang tersebar ditiap sudut jalan terdapat ribuan orang yang tetap terjaga untuk terus menyelesaikan pekerjaan hingga pagi tiba, mata-mata terjaga para buruh.
Jika kami amati lebih jauh sebelum masuk Mall, serasa disambut mewah dengan sebuah gambar-gambar besar seperti dinding menjulang tinggi dan panjang yang dipasang tepat di perempatan jalan, penawaran hunian kelas bintang lima sampai peristirahatan relaksasi ala big bos. Sekilas tampak gelap di suasana yang terang. Persis didepan terdapat banyak pohon besar dan agak tinggi yang batang dan rantingnya dililitkan lampu-lampu kecil berwarna, tersebar dan berjejer rapi sepanjang jalan. Ada juga pohon yang mirip dengan pohon kelapa, palm mungkin, yang dihiasi sejenis tanaman merambat. Semuanya tampak kelap-kelip indah dengan kendaraan yang tidak terlalu ramai. Ditiap pohon dipasangi lampu tembak yang di pasang tepat dibawah. Ada beberapa pasangan sedang jalan berduaan, ada juga yang sedang duduk di bawah pohon-pohon besar, mereka seperti terpojok kala itu. Kami bergegas masuk kedalam.
Toko bukunya memang luas, buku-bukunyapun sangat banyak, berjejer rapi di setiap dinding. Ok, dua buah buku kami beli.
Setelah membeli buku, kami sepakati untuk makan malam di pinggir jalan. Sambil menuju arah pulang, kami temukan tempat makan malam yang hanya di waktu larut saja tempat tersebut buka. Yup, nasi uduk, biasa memang, tapi yang membedakannya adalah keunikan lauk-pauk nasi uduk tersebut yang kami sendiri agak asing, mengingat di Cikarag sudah jarang orang yang mempertahankan makanan-makanan khas, sebut saja ; sayur gabus pucung, lele pucung, jeroan sapi, lindung goreng kering, dll.
Yang kami suka adalah, tempatnya sederhana, karena berada di emperan toko Indomart yang sudah tutup, jadi tidak terlalu ramai. Dari kejauhan tampak beberapa tukang ojek yang lalu-lalang seakan berlomba untuk mendapatkan penumpang, beberapa buruh tampak saling mengobrol di trotoar mengisi waktu menunggu jemputan mereka. Kami segera memesan hidangan dan duduk di bangku panjang yang kaki-kakinya hanya ditopang dikedua sisinya. Meja makanpun dibuat dari meja kayu yang ditutupi kain seadanya. Tidak ada atap ataupun penerangan, sekilas tampak remang oleh lampu penerangan jalan dari kejauhan. Beberapa layar ATM dan lampu transmisi satelitnya sedikit mengganggu pandangan mata di pojokkan toko. Tampak jelas kelap-kelip lampu agak buram bertuliskan ‘ruko niaga H. Abdul Malik’ dari arah seberang.
Berlagak seperti kaum intelek, kami taruh buku yang baru saja kami beli di meja hidangan, padahal kami adalah penganggur pesakitan yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Lalu kamipun mulai mengembara pemikiran.
"udah berenti kerja gw, abis kontrak", saya memulai pembicaraan.
"ya sama, gw juga"
"tapi besok lo pergi ke Batam, katanya udah pasti dapet gawean ya??"
"yup, denger-denger lo dah daftar di salah satu universitas swasta bekasi?", dia bertanya dengan sedikit melirik sinis.
"iya, gw daftar. Sori belum kasih tau"
"gila, abis kontrak tapi berani daftar kuliah"
"just trust to your heart bro, jika kita niat, segala cara bakal tercipta buat kita"
“hehe. Gw berangkat agak siang. Hmm, agak berat nih bro”, sahabatku mengalihkan pembicaraan.
“loh kenapa?, bukannya itu yang lo mau?, pergi ke suatu tempat atau suasana yang berbeda.”
“tapi…!!!”, dia menyela.
Oi, kita hentikan dulu percakapannya oke. Saya ingin berbagi mengenai diri kami, khususnya sahabat saya tersebut.
Pada dasarnya kami adalah orang yang mudah jenuh dan cepat bosan terhadap sesuatu atau keadaan tertentu. Saya rela meninggalkan apa yang saya punya jika seandainya diberi kesempatan untuk mendapatkan kehidupan baru, suasana baru, demikianpun sahabat saya.
Kami adalah orang-orang yang dinamis, suka berpetualang, kadang pergi ke suatu tempat yang bahkan kami belum tahu tujuannya. Tapi karena keterbatasan materi yang kami miliki, maka kamipun lebih banyak berpetualang untuk menata pemikiran, mengobrol saja tentunya. Kadang hanya dipinggir jalan, di teras rumah, di kamar, bahkan ketika mengendarai sepeda motor.
Tapi jangan salah mengerti, kami tetap memaksimalkan dan berusaha sebaik mungkin ketika ada kegiatan bersama teman-teman yang lain, bahkan kegiatan yang bersifat mempertahankan masa lalupun kami siap. Kami tidak lupa ‘rumah kami’ kok.
Boleh di bilang, sahabat saya adalah seorang backpacker, lebih dari itu, dia mampu menunjukan tentang arti yang lebih dari sekedar pengertian ‘backpacker’, bukan hanya meninggalkan masa lalu ataupun berpindah tempat untuk mendapatka kehidupan baru, atau bukan sekedar pengertian dari backpacker yang hanya didefinisikan tentang seseorang yang berpindah-pindah atau bepergian dengan budget minim, tapi lebih ke tingkat pemahaman yang berubah dari pemikiran yang biasa ke pemikiran yang luar biasa.
Dia mampu menunjukan tingkatan yang lebih dengan mengarahkan bahwa seseorang digerakan oleh pemikirannya, maka tingkatan yang mendalam mengenai backpacker menurut definisi kami adalah berubahnya taraf berfikir secara fundamental, ingin selalu merubah diri demi keyakinannya, tentunya akan terasa berpindah tempat dan terasa mendapatkan suasana baru ketika proses berfikir sudah berubah, sudah berevolusi, sudah berhijrah.
Itu hanya sebagian kecil dari sifat kami. Mari kita lanjutkan ke percakapan kami.
“gw masih belum rela ninggalin temen-temen, lo tau kalo masa lalu kita itu asyik banget buat ditinggalin, lagipula ada beberapa hal yang belum sempet gw beresin”
“bro, pada dasarnya kita adalah seorang backpacker”, kupotong dengan siap memaparkan sebuah argumen.
“apaan tuh?”
“gini,,,”
***
Bro n sist, ternyata jika dikomunikasikan dengan baik, penemuan jatidiripun tidak akan menemui kesulitan yang berarti, karena tentunya akan lebih mudah untuk meminta orang lain menyebutkan tentang diri kita, khususnya keburukan kita. Bukankah kita akan memperbaiki diri dan terus berusaha agar keburukan kita hilang?, itu semua hanya akan kita ketahui dari orang lain, sahabat misalnya. Seperti kutipan dari sebuah koran ternama yang pernah saya baca dari bekas bungkus gorengan yang saya makan : "seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasih sayangnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.", Anonim
Hanya dengan bermodalkan menjaga komunikasi yang baik, sehingga saya dan sahabat saya mampu mengenal pribadi masing-masing dengan baik, kami telah melewati batas dimana kami mengenal kepribadian kami dengan hanya menjaga komunikasi, dan sungguh, tak akan mampu untuk diukur dengan materi.
Selesai makan malam, kami memutuskan untuk pulang, ku antar sahabatku pulang.
“hey, ini malam terakhir, kita ngobrol lagi sampe puas.”, begitu mungkin bisik kami dalam hati.
Maka kamipun melanjutkan malam di depan warung rumah sahabatku, ditemani minuman gelas kemasan saja tentunya. Kali ini berbeda, sedikit agak terharu dengan pembicaraan kami kala itu. Banyak para buruh lalu-lalang dihadapan kami, semuanya terlihat lusuh dan letih. Sebaliknya dengan yang berangkat bekerja, tampak segar dan tentu saja wangi. Hampir di setiap sudut gang-gang terdapat kontrakan yang masih nampak banyak kegiatan, mungkin pulang kerja atau berangkat kerja, biasalah, kegiatan para buruh, mengisi malam dengan bekerja
“kalau aja mereka tahu bahwa mereka adalah pemain utama dalam beberapa revolusi yang pernah terjadi di dunia, mungkin aja kegiatan mereka ga hanya sebatas bangun tidur-menuggu jemputan-kerja-pulang-tidur-kerja lagi besoknya.”, kukatakan pada sahabatku dengan sedikit berbisik.
“kasih contoh dong?”
“sebut aja Revolusi yang terjadi di Rusia tahun 1917, sekitar 30.000 buruh di pabrik paling gede di Petrograd, kalau ga salah nama pabriknya Putilov, mogok kerja buat minta kenaikan upah sebesar 50 persen. Hari-hari berikutnya lebih dasyat lagi, para buruh pabrik di daerah Vyborg mogok karna memprotes kekurangan roti item di toko-toko, saat itu juga 131 perusahaan dengan 158.583 buruh tutup, berikutnya ada sekitar 25.000 tentara yang gabung sama massa, sementara sisanya sekitar 160.000 tentara ga siap menekan gerakan buruh. Menurut sumber lain sih, ada sebanyak 70.000 orang tentara yang gabung sama 385.000 buruh dalam pemogokan. Revolusi tersebut nyiptain situasi baru yang menggairahkan, yakni Tsar yang berkuasa saat itu turun tahta, yang berarti monarki yang udah berumur berabad-abad berakhir. Polisi dibubarin. Di tiap pabrik dibikin komite buruh. Dewan buruh bangkit di mana-mana.”
“terus ada lagi ga contohnya?”
“tau revolusi Perancis kan?, nah, disitu para buruh juga berperan lumayan gede.”
“hmm,mungkin ga Revolusi di Indonesia kelak bakal berawal dari gerakan Buruh, yang notabene di Indonesia muncul akibat gencarnya proses Kapitalisme Global?”
“ya mungkin aja,tapi yang pasti penggulingan kekuasaan lewat kekuatan massa yang gw ceritain barusan ga sesuai sama apa yang di ajarin sama Rosul kita. Lagian penggulingan kekuasaan kaya gitu rawan dan rapuh banget buat di gulingin lagi.”
"people power maksud lo?"
"yup, tapi revolusi di Indonesia bahkan di dunia harus segera tercipta", sedikit agak semangat ketika saya mengucapkan kalimat tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah, “wah, lagi say goodbye nih.”, ibu sahabatku dari dalam warung, kami terkekeh sejenak.
“bro, cepet kesini yah!, ajak gw kalo lo sukses. Awas kalo ga kerja sambil kuliah, cari tempat kuliah disana!.”
Bla,bla,bla, larutpun tiba.
..........................................
kawan, adalah sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidupku ketika aku memiliki sahabat sepertimu yang melihatku bukan dari batas luar akan diriku, tapi mengerti aku dari dalam yang sedemikian buruk dan selalu terabaikan.
maaf jika aku tidak bisa menjagamu dengan baik, pun belum mampu tuk jadi yang terbaik dalam keseharian hidupmu. Tapi ketahuilah, aku merindukanmu, merindukan persahabatan kita, melebihi rindu siapapun.
jika kau kembali, tetaplah dalam satu ikatan yang dijaga oleh tali silaturahim, tapi jika masa lalu membuatmu terluka, maka balutlah dengan keikhlasan pintu maaf.
kawan, kuatkan dirimu, sehingga jarak tak mampu jadi penghalang dalam meraih mimpi kita.
memang tak mudah tuk menjadi orang yang selalu kuat, tapi alangkah beruntungnya kita, karena punya sumber kekuatan dari dzat yang Maha Kuat.
semoga Dia berkenan menjadikan kita orang-orang yang selalu sabar dan memberikan sedikit kekuatanya untuk kita agar mampu mempross diri menjadi kuat, dan semoga Dia berkenan kumpulkan kita di mimbar cahayanya yang berkilat, serta menjadikan kita sebagai hamba-hamba kesayangan yang selalu berada pada jalan kebenaran.
teruntuk sahabat, Harry.
Polisi Buka Posko Pengaduan Terkait Koperasi Langit Biru
-
Polisi membuka posko pengaduan bagi ribuan nasabah Koperasi Langit Biru di
Kabupaten Tangerang yang mengalami keterlambatan pencairan bonus yang
dijanjikan...
40 menit yang lalu






Comments :
Poskan Komentar