Siti sutinah nama lengkapnyanya, nama standar kebanyakan orang Cikarang sebenarnya. Pakaian yang dikenakanpun seperti kebanyakan perempuan-perempuan lainnya, celana pensil agak ketat dengan atasan blus-blus warna gelap, tak lupa tas yang selalu tertenteng di tangan. Tapi ibu satu anak ini berbeda dan punya sesuatu yang tak biasa, setidaknya menurut saya. Perkenalan saya dengannyapun cukup unik. Istirahat tiba, saya membeli gorengan titipan teman kepadanya, lalu ia mulai sok akrab(tapi sungguh, tak ada sedikitpun prilaku sok akrab saat itu) kepada saya dengan bertanya banyak hal, tak sempat saya menjawab, ia sudah bertanya tentang hal lain. Satu penilaian saya kepadanya saat itu:”wah, pasti bukan tipe orang yang selalu membatasi diri”.
Kisah lainnya. Disaat kebanyakan perempuan menghindari gelasnya digunakan oleh orang lain, ia justru sering berbagi kopi di gelas miliknya bersama para teman yang lain. Ia juga tak pernah menunjukkan wajah yang tak nyaman ketika mengobrol di kantin yang dipenuhi oleh kepulan-kepulan asap rokok yang mengisi tiap sudut kantin, walau sebenarnya saya yakin bahwa dia tidak suka dengan asap rokok yang mengganggunya. Atau duduk di bawah pohon seri sambil beradu sebuah candaan apa saja bersama yang lain, tak ada rasa canggung sedikitpun. Bagi seorang wanita, tentunya duduk di sembarang tempat adalah hal yang sangat mereka hindari, tapi tidak bagi perempuan yang biasa di sapa Tinah ini. Hmm, saat para wanita yang lain berkumpul di dalam locker setelah makan siang tiba(mungkin mereka malas bertemu dengan para pria yang tampak kumal di kantin, lebih baik bergosip ria saja di dalam locker), ia malah memilih untuk mengembara pemikiran bersama para pria, kadang hanya di temani segelas kopi yang biasanya diminum beramai-ramai. Pernah suatu hari saya mengobrol tentang Namicoh di bangku tepat di samping mushola bersamanya, seru sekaligus mengharukan. Ia menunjukkan suatu sikap yang berbeda, tidak kebanyakan wanita-wanita lain yang kadang jaim, dan sedikit acuh. Pun nongkrong di si Teteh untuk sekedar bertemu dengan lawan shift sambil mensruput teh dan makan gorengan cap warung dadakan di pojokkan Namicoh plant satu bersama yang lain sambil duduk di trotoar atau parkiran dalam pabrik. Seperti tak kenal kantuk perempuan yang satu ini, ia rela beberapa menit tidak langsung pulang ketika jam kerja malam telah usai hanya untuk mengobrol sejenak dengan beberapa teman lawan shift.
Bagi saya, orang-orang yang tak membatasi dirinya dengan apapun adalah orang-orang yang mempunyai pemikiran hebat, mempunyai banyak teman, pandai bergaul, dan lain sebagainya. Ketika seseorang berpikir bahwa ada rasa segan, malu, atau canggung untuk melakukan sesuatu, atau selalu merasa tidak nyaman dengan apa yang ia tidak suka, maka orang tersebut telah membendung dirinya sendiri dengan hal-hal yang tak pernah ia duga akan membuat dirinya lebih hebat. Ketika seseorang berpendapat bahwa apa yang mereka tidak suka adalah suatu hal yang harus dihindari, maka orang tersebut telah menutup segala bentuk pemikiran-pemikiran lain yang mungkin membuat mereka tahu tentang arti dari sebuah kaidah kausalitas. Tapi tidak bagi Sutinah, ia tidak membatasi dirinya mengobrol bersama yang lain sementara asap –asap rokok selalu beriringan menghiasi obrolan. Ia tidak perduli tentang bau dan kotornya baju-baju yang melekat di tubuh para pria, ia tetap cuek sambil terus mengobrol di kantin, kadang hanya mengeluarkan sebuah candaan:”mandi dulu sonoh”. Sutinah meyakini dengan sepenuh hati bahwa apa-apa yang ada diluar keberadaan pemahamannya adalah suatu hal yang mungkin saja membuat dirinya menjadi lebih bijak. Sutinah meyakini bahwa segala bentuk pemahaman apapun, tidak akan membuat dirinya merasa ‘sakit’, bahkan pemahaman yang bertentangan dengan pemikirannya sekalipun selama ia mampu me-manange-nya dengan baik. Kawan, ada banyak hal yang bisa membuat kita jadi hebat, termasuk dari hal yang tidak pernah kita duga. Maka jangan batasi diri kalian dengan hal-hal yang mungkin kalian tidak suka. Adalah suatu hal sangat tidak adil jika kita mendiskreditkan apa-apa yang berada diluar keberadaan pemahaman kita.
Ada teman saya yang punya reputasi kurang bagus (menurut saya), ia meminjam uang dalam jumlah cukup besar, dan sudah hampir satu tahun ini belum ia kembalikkan, sementara ia berjanji untuk melunasi hanya dalam beberapa bulan saja. Ada begitu banyak kemungkinan tentang sikap yang akan saya ambil untuk menghadapi kawan saya tersebut. Tapi setelah saya berpikir kembali, sikap yang paling tepat adalah jangan membatasi diri saya untuk bergaul atau mengurangi komunikasi(jaga jarak) dengan kawan saya tersebut. Hanya karena dia punya hutang kepada saya, bukan berarti saya harus menjaga jarak atau menghindar terhadapnya. Cukuplah ketidaksukaan saya hanya pada hutangnya saja, bukan kepada orangnya. Atau seperti kalimat yang sempat dilontarkan di dalam locker oleh salah seorang karyawan ketika menunjukkan rasa tidak suka terhadap temannya:”gw ga mau deket sama dia, dia mah celamitan”. Hmm, semoga saja di tidak suka pada celamitannya, bukan pada orangnya. Juga jangan sampai muncul kalimat:”gw mah ga masalah ga temenan sama dia juga”, karena menurut saya kurang bijak jika kita tidak mau memperbaiki hubungan pertemanan kita dengan orang lain. Apalagi sampai ada masalah tapi tidak mau diperbaiki, malah sama-sama diam seperti tidak saling kenal(cuek-cuekan, tidak bagus yaa...-harus pake aksen jepang-). Contoh lain, kita jangan menghindari orang-orang yang mempunyai sikap vokal(suka mengkritisi), cukuplah hanya pada sikap vokalnya saja kita merasa tidak suka. Adalah sebuah kesalahan besar jika kitapun menghindar untuk tidak bergaul kepada orang tersebut hanya karena satu dari banyak sikap yang di punyai manusia, sikap vokal hanya satu dari sekian banyak sifat yang dipunyai manusia. Ketika saya mengkritisi Namicoh lewat tulisan, saya sempat tidak di sapa oleh beberapa teman yang tadinya kami memang tidak ada masalah. Lalu saya bergumam:”anjrit, dicuekin gw...kapan-kapan gw ajak share tuh orang”
Lagipula mengkritisi yang bagaimana dan mengkritisi yang seperti apa. Jika ada sesuatu yang harus atau pantas untuk dikritisi lalu kita hanya diam, apakah bukan suatu hal yang aneh?. Apakah kalian akan tetap diam sementara kalian telah meminta handcover berkali-kali tapi tak ditanggapi dengan alasan ‘masih request’?, bukankahkah handcover adalah alat keselamatan kerja yang sudah tentu masuk ke dalam kategori basic need manusia, lalu kenapa harus selalu ditanggapi dengan sikap pemakluman?. Bukankah justru perubahan-perubahan besar di dunia tercipta oleh orang-orang yang vokal?, dari mulai reformasi ala Indonesia sampai revolusi Perancis masa dark age dulu. Kalian tahu Lennin?, dia adalah orang yang selalu mengkritisi Tsar, seorang penguasa pada saat itu. Lennin mampu memprovokasi para buruh yang ditindas dan tidak mendapatkan kesejahteraan pihak perusahaan yang bekerjasama dengan Tsar. Lalu revolusipun terjadi.
“Tunggu dulu, saya boleh tanya?”
Yup, silahkan.
“Bagaimana jika memilah-milah dalam memilih teman?, bukankah kita mau sesuatu yang terbaik dalam diri kita, termasuk memilih teman misalnya”
Tenang, nanti saya coba jelaskan.
Begini, jawabanya adalah benar. Kita memang berhak untuk memilih siapapun untuk menjadi teman kita, tapi kembali saya tekankan bahwa itu jangan dijadikan sebagai alasan untuk tidak berbuat adil. Baiklah bahwa kalian telah memilih si A untuk menjadi bestfriend kalian, tapi jangan pernah membatasi diri kalian untuk bergaul dengan orang lain dan memahami orang lain, atau ekstrimnya adalah tidak memperdulikan. Karena si A adalah bestfriend kalian, bukan berarti kalian tidak mau meminjamkan uang pada si B. Karena si A adalah bestfriend kalian, bukan berarti kalian membatasi obrolan dengan si C. Karena si A adalah bestfriend kalian, bukan berarti semena-mena dengan menjatuhkan nama baik si D. Inilah yang saya maksud bersikap adil dan bijak.
Bagaimana?. Mudah-mudahan ini disetujui.
Nb.
Pengen nulis lebih detail lagi, tapi biasanya penggemar pada protes kalo terlalu panjang tulisannya. Hehe.
Polisi Buka Posko Pengaduan Terkait Koperasi Langit Biru
-
Polisi membuka posko pengaduan bagi ribuan nasabah Koperasi Langit Biru di
Kabupaten Tangerang yang mengalami keterlambatan pencairan bonus yang
dijanjikan...
20 menit yang lalu






Comments :
Poskan Komentar